Thursday, December 11, 2008

They need our love

"Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluaganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak" (dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

Dengan menggunakan buluh ayam, anak kecil itu mencoba menghapus debu mobil yang berhenti di stopan. Supir menggelengkan kepala sambil memberi isyarat dengan tangannya pertanda menolak mobilnya dibersihkan dari debu dan sang anak menghindar dengan menggerutu dalam hati. Seorang gadis cilik menadahkan telapak tangannya kepada supir yang membuka jendela dan menyodorkan uang recehan seratus rupiah. Pemandangan yang nyaris tampak di seluruh kota-kota besar Pulau Jawa.

Ratusan ribu anak jalanan setiap hari mengerubungi kendaraan yang lewat dan berhenti di lampu stopan kala merah menyala. Barangkali jutaan. Gejala apa ini? Jauh hari, dalam beberapa dekade sebelumnya, kaum gelandanganlah yang menguasai jalanan, dengan rombongan pengemis usia tua, cacat, dan mengenaskan bentuk tubuhnya. Tetapi satu dekade belakangan ini, muncul fenomena baru, anak-anak usia di bawah sepuluh tahun dan usia belasan tahun, sekonyong-konyong bersaing dengan pendahulu mereka dan "merajai" jalan.

Berkali-kali dinas sosial memungut para pengemis dan menempatkan mereka di pusat-pusat rehabilitasi sosial, berkali-kali pula mereka kembali ke "habitat" mereka. Sampai akhirnya gejala baru ini muncul, orang dewasa yang "memperalat" anak-anak usia belasan tahun!

TRAGEDI KOTA?

Kalau ditilik dari sudut sosiologi, pertumbuhan dan perkembangan desa dan kota tentu berbeda. Umumnya, di daerah pedesaan dinamika masyarakat bersifat statis. Anak-anak lahir dalam keluarga, sementara lahan untuk mata pencaharian tidak pernah bertambah. Ladang dibentuk dari hutan, semakin jauh ke dalam, hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Tetapi hal itu pun tidak menolong banyak. Akibatnya, hutan semakin berkurang dan bencana alam pun turut merusak "alam" yang dijajah manusia dan menuntut "balas" kepada manusia yang merusak lingkungan.

Di perkotaan, tumbuhnya industri telah menyedot banyak tenaga kerja bagaikan magnet bagi penduduk desa. Terjadilah arus urbanisasi. Walaupun begitu, tidak semua mereka ini dapat memberi hidup kepada anak-anak di dalam keluarganya sehingga terjadilah dampak yang tidak diharapkan. Anak menjadi peminta-minta di jalan dan berusaha "memeras" rasa belas kasihan orang yang lewat. Uang recehan akan bermunculan dari balik jendela depan! Sangat mudah mendapatkan uang. Hal ini menarik lebih banyak lagi orang desa datang ke kota dan memanfaatkan anak mereka yang mudah dikasihani.

Siapa yang salah? Keadaan masyarakat ataukah keluarga anak-anak itu sendiri? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara sederhana. Manusia telah memperumit situasi hidupnya sendiri. Orang dewasa "merampas" hak anak-anak untuk bermain, bersekolah, dan hidup sebagaimana lazimnya anak-anak. Mereka dipaksa orang tua untuk merasakan getirnya kehidupan. Dari keluarga miskin di desa, mampir ke kota menjadi pengemis! Sebuah tragedi zaman ini.

NASIB ANAK JALANAN

Pada suatu ketika, jalan-jalan di kota sepi dan "bersih" dari anak jalanan yang mengemis. Di mana mereka? Ditangkapi polisi! Dibawa ke mana? Ke rumah tahanan sementara! Sayangnya, rumah tahanan sementara itu kerapkali menjadi bagian dari penjara yang dihuni oleh kriminal amatir dan kawakan (kambuhan). Ruang tahanan yang sudah padat itu kemudian disesaki oleh anak-anak kecil yang "dipungut" dari jalan.

Menurut beberapa penelitian, di Amerika Latin dan Afrika, anak-anak jalanan ditangkapi oleh polisi dan dititipkan di penjara orang dewasa. Di sini mereka mengalami sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh anak-anak itu sebelumnya. Mereka menjadi korban penyalahgunaan seks orang dewasa dan di sini pula mereka belajar mengenali pelbagai corak kejahatan. Sekeluarnya mereka dari "tahanan sementara" ini, mereka menjadi terdidik dan "terlatih" sebagai calon penjahat.

Berdasarkan penelitian di Brasilia, Sao Paulo, 80% penghuni penjara adalah bekas anak jalanan. Di tengah-tengah keluarga, mereka kurang dihargai, disuruh mencari nafkah sendiri, hak-hak mereka diperkosa, jasmani mereka juga diperkosa. Masyarakat luar pun banyak yang tidak menaruh simpati kepada mereka, membuat dunia anak jalanan ini semakin runyam. Mereka tidak memikirkan masa depan. Mereka mencari sesuap nasi untuk hari ini kemudian meletakkan tubuhnya, jika letih dan tidur pada malam hari, di mana saja. Dinginnya malam menjadi bagian hidupnya, teriknya siang menjadi sahabat mereka.

Kebijakan pemerintah dengan menangkapi mereka, mungkin karena faktor wisata bahwa kehadiran mereka sebagai pengemis amat merusak "wajah" kota, demi kepentingan pariwisata itu, tidak membantu mengurangi "penyakit" masyarakat ini. Tentu saja pemerintah tidak akan mampu memulihkan situasi anak-anak jalanan ini. Bagaimana dengan orang tua yang melahirkan mereka?

PEKERJA ANAK?

Anak-anak yang "beruntung" tidak terpental ke jalanan, ada yang ditampung di perusahaan industri. Tetapi pengharapan kepada buruh anak-anak ini tidaklah memadai sebab pada umumnya mereka dihargai jauh di bawah upah orang dewasa walaupun kadang-kadang jam kerja mereka melebihi jam kerja orang dewasa!

Ada ayah yang kehilangan pekerjaan justru mendorong anaknya untuk bekerja. Banyak anak menjadi pemulung karena dorongan keluarga atau orang tua mereka, atau mereka yang ditinggalkan oleh orang tua mereka begitu saja. Anak-anak yang ditampung di rumah penampungan, jika kemudian dapat menyesuaikan diri, beruntung karena mereka memiliki "keluarga besar" yang sebaya dengan mereka, dididik dan dibesarkan di lingkungan anak-anak sepermainan mereka.

PETAKA LAIN

Bencana alam, seperti yang dialami Aceh waktu gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu, telah membuat nasib anak-anak tidak menentu, khususnya mereka yang kehilangan sanak keluarga dan orang tua. Bencana alam ini telah memupus masa depan mereka. Jika simpati dan empati tidak diberikan kepada mereka, melalui pertolongan orang tua asuh, kemungkinan besar mereka yang luput dari bencana itu akan terlempar ke tepi jalan dan menjadi anak jalanan. Bencana alam telah memupus masa depan anak-anak yang kehilangan kerabat dan orang tua mereka. Oleh karena itu, kepedulian sosial sangat mereka butuhkan.

"Organisasi" anak jalanan, yang menghimpun dan "mengekalkan" mereka di dalam kondisi seperti itu, dapatlah dianggap sebagai anak jalanan yang malang. Mereka terperangkap dalam situasi buruk yang dikondisikan, demi kepentingan orang dewasa yang mengorganisasi mereka. Petaka seperti ini patut diwaspadai oleh pihak yang berwenang.

Seorang gadis yang pernah mengajar anak jalanan menceritakan bahwa tidak semua lembaga atau organisasi yang menampung anak jalanan membina mereka dengan baik. Banyak yang malah menjerumuskan mereka ke jalanan untuk mencari uang. Bahkan ada anak korban tsunami aceh yang lari dari penampungan karena tidak tahan terus disiksa. Padahal orang yang memasukkannya memberikan dana yang besar untuk membinanya. Sungguh ironis sekali.
Gadis itu juga mengatakan ternyata perlakuan yang anak jalanan terima sangat mengerikan. Pernah ketika dia sedang mengajar, ada mahasiswa yang berjalan melewati mereka. Dan tanpa pikir panjang, mahasiswa itu menendang salah satu anak jalanan lalu pergi dengan tanpa rasa bersalah. Padahal mahasiswa itu tidak diganggu sedikitpun. Mereka sedang belajar, bukan membuat kerusuhan. Oleh karena itu, anak jalanan sangat takut kepada mahasiswa. Yang kedua yang ditakuti adalah polisi.

Pernah suatu kali saya dan teman-teman ingin berbuat sesuatu bagi mereka. Tetapi karena kami tidak mempunyai cukup uang, kami hanya bisa menghibur mereka dengan bermain & makan siang bersama. Mereka sangat bahagia, padahal sangat sedikit yang bisa kami lakukan.


Mereka seharusnya menerima kasih sayang, bukan pukulan atau hinaan. Mereka juga manusia seperti kita yang ingin hidup bahagia. Tidakkah kita bisa membiarkan mereka hidup tenang tanpa mengganggu mereka?

Semoga video ini dapat membantu Anda memahami & merasakan kehidupan mereka.

No comments: