Pernahkah kita mengingat Ibu/Bunda/Mama/Nande/Mamak kita di hari-hari belakangan ini? Pertanyaan itu juga yang saya ajukan pada diri sendiri saat mencuci baju di sabtu pagi kemaren.
Ibu/Bunda/Mama/Nande/Mamak atau apapun sebutan sayang bagi wanita yang telah melahirkan kita, mungkin saja saat ini sedang duduk-duduk di kursi goyang depan rumah. Menghabiskan hari tuanya dalam lamunan panjang tentang kenangan anak-anaknya yang besar begitu cepat. Hari-hari membersihkan pipis dan pup, mengajarkan ucapan pertama, menatih kaki-kaki kecil balitanya berjalan-hingga kaki itu akhirnya cukup kokoh menapak, berjalan serta kemudian meleset berlari secepat ia bisa.
Ia membujuk upik dan buyungnya ketika emoh makan dan mogok sekolah. Ikut-ikutan stres ketika permata hatinya menghadapi ulangan di kelas. Bahkan ikutan latah bolak-balik ke
kamar mandi saat anaknya mengikuti ujian akhir. Diluar biaya yang dikeluarkan ayah dan ibu kita, ibu memendam kekhawatiran besar (walau hal itu tak pernah ia sampaikan) dengan kondisi
anaknya-hingga mereka ini berusia 23 tahun (kira-kira lulus S1).
Setelah itu, benak para ibu masih dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Apakah anakku akan dapat pekerjaan yang baik dan dengan posisi yang baik pula?. Lalu kalau ia memilih pasangan, calon istri/suaminya dari keturunan baik-baikkah. ...dan seterusnya.. dan seterusnya. Seumur hidupnya bahkan dihabiskan memikirkan anak-anaknya, tak peduli anak-anak itu sudah besar sekalipun.
Bagi seorang ibu, anak akan selalu menjadi bayi-bayi mereka. Tak peduli anak-anak ini sudah dewasa sekalipun. Maka berlapang dadalah jika di depan ibu, kita masih sering ditegur-layaknya gadis-
gadis ABG yang ditegur gurunya karena cekikikan membicarakan teman lelakinya. Karena itu pertanda kasih sayangnya ibu.
Hari ini di usianya menjelang senja, bisa jadi ia masih aktif bekerja menjelang pensiunnya. Atau Ia tetap ke ladang bertanam padi selayaknya rutinitas yang ia jalani berpuluh tahun lamanya. Ia
bekerja bukan lagi untuk menyokong kehidupan keluarganya. Karena mungkin, tabungan/pensiun atau dana kiriman dari anda, anak-anaknya sudah lebih cukup untuk hidupnya sehari-hari. Ia bekerja sebagai perintang hari. Untuk sangu sekedarnya bagi anak dan cucu ketika pulang berlebaran.
"Ini beras dari ladang kita. Bawa yaaa ke kota", begitu mungkin ujarnya. Ia masih saja mengingat betapa lahapnya anda makan saat dihidangkan beras merah hasil ladang sendiri.
Atau hari ini, mungkin Mamak kita adalah seorang wanita yang hanya bisa duduk di kursi roda, karena tulang-tulangnya terlalu rapuh untuk berdiri akibat keropos terkena oestoporosis. Kekurangan zat kapur, begitu istilahnya. Karena terlalu banyak kapur yang kita serap dari dirinya saat mengandung dulu.
Mungkin juga Nande kita adalah seorang wanita dengan uban keperakan, menunggu seluruh rambutnya berubah memutih. Memandangi foto-foto masa lalu dan masa kini-anak, cucu dan menantunya. Lalu mendekap harta berharganya itu dengan rindu mendalam, disertai cucuran air mata.
Atau wanita yang mulai pikun. Yang menebar surat anak-anaknya di depan meja jati tengah rumah yang ikut menua bersama dirinya. Surat-surat itu begitu rapi ia simpan saat ingatannya masih tajam. Ia mulai membaca surat tersebut satu-persatu. Menangis-tertawa-dan menangis dalam satu waktu bersamaan. Pernah kita mengingat Ibu kita di hari-hari belakangan ini?
Bagi perempuan, ingatan pada ibu mungkin menguat saat akan melahirkan. Betapa rasa sakit yang maha hebat ketika melahirkan akhirnya memunculkan sebuah kesadaran diri. Begitu banyaknya yang telah dilakukan oleh ibu selama ini. Sehingga lebih dari pantas, terima kasih disampaikan pada ibu.
Bagi anak laki-laki, momen ketika sungkem pada orang tua di saat menikah menjadi sarana mengucapkan
terima kasih atas kasih ibu selama ini. Atau mungkin dalam momen lebaran. Walaupun kisarannya lebih banyak pada cerita permintaan maaf.
Pernah kita mengingat Ibu kita di hari-hari belakangan ini?
Di saat kita telah dikaruniakan istri yang cantik/suami yang tampan serta anak-anak yang lucu. Kesibukan kerja dan
rumah tangga yang amat padat begitu menyita perhatian kita. Di saat seluruh persoalan yang kita hadapi membludak satu persatu dalam kepala kecil ini.
Pernah kita mengingat Ibu kita di hari-hari belakangan ini?
Atau ingatan itu menjelma saat kesulitan menghadang kita bertubi-tubi. Lalu kita teringat bahwa doa ibu begitu mustajab membantu mempercepat selesainya persoalan kita, di luar usaha yang kita lakukan.
Pernah kita mengingat Ibu kita di hari-hari belakangan ini?
Tidak hanya sekedar berterima kasih atas apa yang ia lakukan. Tapi juga mempertanyakan hari-harinya belakangan ini. Sehatkah?, sakitkah ?, senang atau khawatirkah? .
Tidak sekedar mengulaskan senyum letih sepulang kerja, lalu buru-buru masuk kamar-mengunci pintu kamar untuk menghabiskan seharian penuh membaca novel (buat yang doyan baca) atau pergi lagi hang-out atau bercengkrama bersama teman mencari obat pelepas lelah, setelah seharian bekerja (bagi yang masih single.
Sesekali (tak perlulah sering-sering) , temani ibu kita berbelanja ke pasar. Bawakan belanjaannya dan perhatikan bagaimana gigihnya ia mencari bahan makanan untuk dirimu-anak kesayangannya, agar terhidang menjadi makanan yang lezaaat luar biasa. Agar kita tahu, betapa sayangnya ia pada kita.
Sesekali pula, manjakan dia. Ajak beliau menikmati makanan kesukaannya di restoran atau di warung-warung favoritnya. Belikan ia makanan kesukaannya, selagi ia masih mampu mengunyahnya dengan gigi yang lengkap dan merasakan cita rasa kelezatan makanan tersebut.
Atau bagi yang punya uang lebih dan hidup berjauhan dari ibu. Kunjungi ibu anda diluar daftar kunjungan rutin (lebaran, atau sedang sakit). Berikan ia surprise kecil yang membahagiakan. Jika anda tak punya materi untuk itu, berdo'alah. Doakan ibu kita, semoga ia selalu diberi kesehatan dan keselamatan.
Sehingga hari tuanya tak hanya dihabis hanya untuk mengenang anak-anaknya- yang berada nun jauh di sana, sambil menyusut air mata-menahan kerinduan yang mendalam.
(By: Asma Sembiring)