Tuesday, December 30, 2008

A New Year with The Lord

The New Year is an event that happens when a culture celebrates the end of one year and the beginning of the next year. Cultures that measure yearly calendars all have New Year celebrations.
(From Wikipedia, the free encyclopedia)


A New Year With The Lord

A new year is about to unfold
With new opportunities to explore
Doors will open for new experiences
New adventures with the Lord

Remember not the former things
The things of this past year
The Lord will do new things in us
Much more than we are aware

For He will make a way for us
As we put our trust in Him
And He will guide our every step
By His presence we have within

What God has placed within our hearts
We find we’ll be able to do
If we look for the opportunities
We’ll see the door to go through

We mustn’t let anything hold us back
But rise up and take our place
And be all that God wants us to be
With a fresh touch of His grace

© By M.S.Lowndes


Wednesday, December 24, 2008

What does Christmas Mean to You?

It may mean different things to different people, but lets take a look at what it meant to some people who were present at that famous birth so long ago.

To Mary it meant becoming a mother, birthing the Messiah. When an Angel came to tell her that she was to become a mother, she asked, “How can this be, since I do not have a husband?” Then the Angel explained the miracle that would take place and Mary said, “Be it unto me according to your word.” Submission

To Joseph it meant following God’s Word. Living under the Law, if one was found to be pregnant before marriage, the girl was to be stoned to death. Joseph loved Mary so much, that he planned to hide her away privately. Then the Angel of the Lord came to him in a dream and said, “Don’t be afraid, Joseph, for the virgin Mary will have a Son, and thou shalt call his name Jesus, for he shall save his people from their sin. Joseph followed the words of the Angel. Obedience

To the Shepherds it meant…go see !! The night of the holy birth, while the Shepherds were watching their sheep, the sky became brilliant. A great host of angels appeared in the shining sky and sang a new song, To the Shepherds they said, “Don’t be afraid, we are bringing tidings of great joy, for unto you is born this day, in the city of David, a Saviour, which is Christ the Lord. You will find him in a manger. With such an announcement, they went immediately to search for that which the Angels had told them about. Believe

To the Wise Men it meant following the star. They had studied the heavens and discovered a new Star. They followed it to Jerusalem and inquired, “Where is he that is born King of the Jews, for we have seen his star in the east and have come to worship him?” They were told that he was to be born in Bethlehem. They followed the star and when they found him they presented precious gifts of gold, frankincense and myrrh and worshipped him in the house where they were now living. Worship

To Herod it meant distress. When Herod heard the question of the Wise Men, he was greatly disturbed. He instructed them to return to him after they had found the Newborn in Bethlehem, so he could go and worship him also. Under God’s direction, they returned home another way. Herod was filled with rage. He then had all the babies, two years and younger, put to death, after inquiring how long it had been since the Wise Men had first discovered the Star. Revenge

To You and Me. As the question comes to each of us, we have the opportunity to answer according to that which is within our own heart. Will we answer the same as Mary, Joseph, the Shepherds and the Wise Men did.??

WHAT DOES CHRISTMAS REALLY MEAN TO YOU ?

But as many as received him,
to them gave he power
to become the sons of God, even to them
that believe on his name. John 1:12

Tuesday, December 23, 2008

Pernahkah Kita Mengingat Ibu Kita di Hari-Hari terakhir ini ?

Pernahkah kita mengingat Ibu/Bunda/Mama/Nande/Mamak kita di hari-hari belakangan ini? Pertanyaan itu juga yang saya ajukan pada diri sendiri saat mencuci baju di sabtu pagi kemaren.

Ibu/Bunda/Mama/Nande/Mamak atau apapun sebutan sayang bagi wanita yang telah melahirkan kita, mungkin saja saat ini sedang duduk-duduk di kursi goyang depan rumah. Menghabiskan hari tuanya dalam lamunan panjang tentang kenangan anak-anaknya yang besar begitu cepat. Hari-hari membersihkan pipis dan pup, mengajarkan ucapan pertama, menatih kaki-kaki kecil balitanya berjalan-hingga kaki itu akhirnya cukup kokoh menapak, berjalan serta kemudian meleset berlari secepat ia bisa.

Ia membujuk upik dan buyungnya ketika emoh makan dan mogok sekolah. Ikut-ikutan stres ketika permata hatinya menghadapi ulangan di kelas. Bahkan ikutan latah bolak-balik ke kamar mandi saat anaknya mengikuti ujian akhir. Diluar biaya yang dikeluarkan ayah dan ibu kita, ibu memendam kekhawatiran besar (walau hal itu tak pernah ia sampaikan) dengan kondisi
anaknya-hingga mereka ini berusia 23 tahun (kira-kira lulus S1).

Setelah itu, benak para ibu masih dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Apakah anakku akan dapat pekerjaan yang baik dan dengan posisi yang baik pula?. Lalu kalau ia memilih pasangan, calon istri/suaminya dari keturunan baik-baikkah. ...dan seterusnya.. dan seterusnya. Seumur hidupnya bahkan dihabiskan memikirkan anak-anaknya, tak peduli anak-anak itu sudah besar sekalipun.

Bagi seorang ibu, anak akan selalu menjadi bayi-bayi mereka. Tak peduli anak-anak ini sudah dewasa sekalipun. Maka berlapang dadalah jika di depan ibu, kita masih sering ditegur-layaknya gadis-gadis ABG yang ditegur gurunya karena cekikikan membicarakan teman lelakinya. Karena itu pertanda kasih sayangnya ibu.

Hari ini di usianya menjelang senja, bisa jadi ia masih aktif bekerja menjelang pensiunnya. Atau Ia tetap ke ladang bertanam padi selayaknya rutinitas yang ia jalani berpuluh tahun lamanya. Ia
bekerja bukan lagi untuk menyokong kehidupan keluarganya. Karena mungkin, tabungan/pensiun atau dana kiriman dari anda, anak-anaknya sudah lebih cukup untuk hidupnya sehari-hari. Ia bekerja sebagai perintang hari. Untuk sangu sekedarnya bagi anak dan cucu ketika pulang berlebaran.

"Ini beras dari ladang kita. Bawa yaaa ke kota", begitu mungkin ujarnya. Ia masih saja mengingat betapa lahapnya anda makan saat dihidangkan beras merah hasil ladang sendiri.

Atau hari ini, mungkin Mamak kita adalah seorang wanita yang hanya bisa duduk di kursi roda, karena tulang-tulangnya terlalu rapuh untuk berdiri akibat keropos terkena oestoporosis. Kekurangan zat kapur, begitu istilahnya. Karena terlalu banyak kapur yang kita serap dari dirinya saat mengandung dulu.

Mungkin juga Nande kita adalah seorang wanita dengan uban keperakan, menunggu seluruh rambutnya berubah memutih. Memandangi foto-foto masa lalu dan masa kini-anak, cucu dan menantunya. Lalu mendekap harta berharganya itu dengan rindu mendalam, disertai cucuran air mata.

Atau wanita yang mulai pikun. Yang menebar surat anak-anaknya di depan meja jati tengah rumah yang ikut menua bersama dirinya. Surat-surat itu begitu rapi ia simpan saat ingatannya masih tajam. Ia mulai membaca surat tersebut satu-persatu. Menangis-tertawa-dan menangis dalam satu waktu bersamaan. Pernah kita mengingat Ibu kita di hari-hari belakangan ini?

Bagi perempuan, ingatan pada ibu mungkin menguat saat akan melahirkan. Betapa rasa sakit yang maha hebat ketika melahirkan akhirnya memunculkan sebuah kesadaran diri. Begitu banyaknya yang telah dilakukan oleh ibu selama ini. Sehingga lebih dari pantas, terima kasih disampaikan pada ibu.

Bagi anak laki-laki, momen ketika sungkem pada orang tua di saat menikah menjadi sarana mengucapkan terima kasih atas kasih ibu selama ini. Atau mungkin dalam momen lebaran. Walaupun kisarannya lebih banyak pada cerita permintaan maaf.

Pernah kita mengingat Ibu kita di hari-hari belakangan ini?

Di saat kita telah dikaruniakan istri yang cantik/suami yang tampan serta anak-anak yang lucu. Kesibukan kerja dan rumah tangga yang amat padat begitu menyita perhatian kita. Di saat seluruh persoalan yang kita hadapi membludak satu persatu dalam kepala kecil ini.

Pernah kita mengingat Ibu kita di hari-hari belakangan ini?

Atau ingatan itu menjelma saat kesulitan menghadang kita bertubi-tubi. Lalu kita teringat bahwa doa ibu begitu mustajab membantu mempercepat selesainya persoalan kita, di luar usaha yang kita lakukan.

Pernah kita mengingat Ibu kita di hari-hari belakangan ini?

Tidak hanya sekedar berterima kasih atas apa yang ia lakukan. Tapi juga mempertanyakan hari-harinya belakangan ini. Sehatkah?, sakitkah ?, senang atau khawatirkah? .

Tidak sekedar mengulaskan senyum letih sepulang kerja, lalu buru-buru masuk kamar-mengunci pintu kamar untuk menghabiskan seharian penuh membaca novel (buat yang doyan baca) atau pergi lagi hang-out atau bercengkrama bersama teman mencari obat pelepas lelah, setelah seharian bekerja (bagi yang masih single.

Sesekali (tak perlulah sering-sering) , temani ibu kita berbelanja ke pasar. Bawakan belanjaannya dan perhatikan bagaimana gigihnya ia mencari bahan makanan untuk dirimu-anak kesayangannya, agar terhidang menjadi makanan yang lezaaat luar biasa. Agar kita tahu, betapa sayangnya ia pada kita.

Sesekali pula, manjakan dia. Ajak beliau menikmati makanan kesukaannya di restoran atau di warung-warung favoritnya. Belikan ia makanan kesukaannya, selagi ia masih mampu mengunyahnya dengan gigi yang lengkap dan merasakan cita rasa kelezatan makanan tersebut.

Atau bagi yang punya uang lebih dan hidup berjauhan dari ibu. Kunjungi ibu anda diluar daftar kunjungan rutin (lebaran, atau sedang sakit). Berikan ia surprise kecil yang membahagiakan. Jika anda tak punya materi untuk itu, berdo'alah. Doakan ibu kita, semoga ia selalu diberi kesehatan dan keselamatan.

Sehingga hari tuanya tak hanya dihabis hanya untuk mengenang anak-anaknya- yang berada nun jauh di sana, sambil menyusut air mata-menahan kerinduan yang mendalam.

(By: Asma Sembiring)

zwani.com myspace graphic comments



Thursday, December 11, 2008

They need our love

"Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluaganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak" (dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

Dengan menggunakan buluh ayam, anak kecil itu mencoba menghapus debu mobil yang berhenti di stopan. Supir menggelengkan kepala sambil memberi isyarat dengan tangannya pertanda menolak mobilnya dibersihkan dari debu dan sang anak menghindar dengan menggerutu dalam hati. Seorang gadis cilik menadahkan telapak tangannya kepada supir yang membuka jendela dan menyodorkan uang recehan seratus rupiah. Pemandangan yang nyaris tampak di seluruh kota-kota besar Pulau Jawa.

Ratusan ribu anak jalanan setiap hari mengerubungi kendaraan yang lewat dan berhenti di lampu stopan kala merah menyala. Barangkali jutaan. Gejala apa ini? Jauh hari, dalam beberapa dekade sebelumnya, kaum gelandanganlah yang menguasai jalanan, dengan rombongan pengemis usia tua, cacat, dan mengenaskan bentuk tubuhnya. Tetapi satu dekade belakangan ini, muncul fenomena baru, anak-anak usia di bawah sepuluh tahun dan usia belasan tahun, sekonyong-konyong bersaing dengan pendahulu mereka dan "merajai" jalan.

Berkali-kali dinas sosial memungut para pengemis dan menempatkan mereka di pusat-pusat rehabilitasi sosial, berkali-kali pula mereka kembali ke "habitat" mereka. Sampai akhirnya gejala baru ini muncul, orang dewasa yang "memperalat" anak-anak usia belasan tahun!

TRAGEDI KOTA?

Kalau ditilik dari sudut sosiologi, pertumbuhan dan perkembangan desa dan kota tentu berbeda. Umumnya, di daerah pedesaan dinamika masyarakat bersifat statis. Anak-anak lahir dalam keluarga, sementara lahan untuk mata pencaharian tidak pernah bertambah. Ladang dibentuk dari hutan, semakin jauh ke dalam, hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Tetapi hal itu pun tidak menolong banyak. Akibatnya, hutan semakin berkurang dan bencana alam pun turut merusak "alam" yang dijajah manusia dan menuntut "balas" kepada manusia yang merusak lingkungan.

Di perkotaan, tumbuhnya industri telah menyedot banyak tenaga kerja bagaikan magnet bagi penduduk desa. Terjadilah arus urbanisasi. Walaupun begitu, tidak semua mereka ini dapat memberi hidup kepada anak-anak di dalam keluarganya sehingga terjadilah dampak yang tidak diharapkan. Anak menjadi peminta-minta di jalan dan berusaha "memeras" rasa belas kasihan orang yang lewat. Uang recehan akan bermunculan dari balik jendela depan! Sangat mudah mendapatkan uang. Hal ini menarik lebih banyak lagi orang desa datang ke kota dan memanfaatkan anak mereka yang mudah dikasihani.

Siapa yang salah? Keadaan masyarakat ataukah keluarga anak-anak itu sendiri? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara sederhana. Manusia telah memperumit situasi hidupnya sendiri. Orang dewasa "merampas" hak anak-anak untuk bermain, bersekolah, dan hidup sebagaimana lazimnya anak-anak. Mereka dipaksa orang tua untuk merasakan getirnya kehidupan. Dari keluarga miskin di desa, mampir ke kota menjadi pengemis! Sebuah tragedi zaman ini.

NASIB ANAK JALANAN

Pada suatu ketika, jalan-jalan di kota sepi dan "bersih" dari anak jalanan yang mengemis. Di mana mereka? Ditangkapi polisi! Dibawa ke mana? Ke rumah tahanan sementara! Sayangnya, rumah tahanan sementara itu kerapkali menjadi bagian dari penjara yang dihuni oleh kriminal amatir dan kawakan (kambuhan). Ruang tahanan yang sudah padat itu kemudian disesaki oleh anak-anak kecil yang "dipungut" dari jalan.

Menurut beberapa penelitian, di Amerika Latin dan Afrika, anak-anak jalanan ditangkapi oleh polisi dan dititipkan di penjara orang dewasa. Di sini mereka mengalami sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh anak-anak itu sebelumnya. Mereka menjadi korban penyalahgunaan seks orang dewasa dan di sini pula mereka belajar mengenali pelbagai corak kejahatan. Sekeluarnya mereka dari "tahanan sementara" ini, mereka menjadi terdidik dan "terlatih" sebagai calon penjahat.

Berdasarkan penelitian di Brasilia, Sao Paulo, 80% penghuni penjara adalah bekas anak jalanan. Di tengah-tengah keluarga, mereka kurang dihargai, disuruh mencari nafkah sendiri, hak-hak mereka diperkosa, jasmani mereka juga diperkosa. Masyarakat luar pun banyak yang tidak menaruh simpati kepada mereka, membuat dunia anak jalanan ini semakin runyam. Mereka tidak memikirkan masa depan. Mereka mencari sesuap nasi untuk hari ini kemudian meletakkan tubuhnya, jika letih dan tidur pada malam hari, di mana saja. Dinginnya malam menjadi bagian hidupnya, teriknya siang menjadi sahabat mereka.

Kebijakan pemerintah dengan menangkapi mereka, mungkin karena faktor wisata bahwa kehadiran mereka sebagai pengemis amat merusak "wajah" kota, demi kepentingan pariwisata itu, tidak membantu mengurangi "penyakit" masyarakat ini. Tentu saja pemerintah tidak akan mampu memulihkan situasi anak-anak jalanan ini. Bagaimana dengan orang tua yang melahirkan mereka?

PEKERJA ANAK?

Anak-anak yang "beruntung" tidak terpental ke jalanan, ada yang ditampung di perusahaan industri. Tetapi pengharapan kepada buruh anak-anak ini tidaklah memadai sebab pada umumnya mereka dihargai jauh di bawah upah orang dewasa walaupun kadang-kadang jam kerja mereka melebihi jam kerja orang dewasa!

Ada ayah yang kehilangan pekerjaan justru mendorong anaknya untuk bekerja. Banyak anak menjadi pemulung karena dorongan keluarga atau orang tua mereka, atau mereka yang ditinggalkan oleh orang tua mereka begitu saja. Anak-anak yang ditampung di rumah penampungan, jika kemudian dapat menyesuaikan diri, beruntung karena mereka memiliki "keluarga besar" yang sebaya dengan mereka, dididik dan dibesarkan di lingkungan anak-anak sepermainan mereka.

PETAKA LAIN

Bencana alam, seperti yang dialami Aceh waktu gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu, telah membuat nasib anak-anak tidak menentu, khususnya mereka yang kehilangan sanak keluarga dan orang tua. Bencana alam ini telah memupus masa depan mereka. Jika simpati dan empati tidak diberikan kepada mereka, melalui pertolongan orang tua asuh, kemungkinan besar mereka yang luput dari bencana itu akan terlempar ke tepi jalan dan menjadi anak jalanan. Bencana alam telah memupus masa depan anak-anak yang kehilangan kerabat dan orang tua mereka. Oleh karena itu, kepedulian sosial sangat mereka butuhkan.

"Organisasi" anak jalanan, yang menghimpun dan "mengekalkan" mereka di dalam kondisi seperti itu, dapatlah dianggap sebagai anak jalanan yang malang. Mereka terperangkap dalam situasi buruk yang dikondisikan, demi kepentingan orang dewasa yang mengorganisasi mereka. Petaka seperti ini patut diwaspadai oleh pihak yang berwenang.

Seorang gadis yang pernah mengajar anak jalanan menceritakan bahwa tidak semua lembaga atau organisasi yang menampung anak jalanan membina mereka dengan baik. Banyak yang malah menjerumuskan mereka ke jalanan untuk mencari uang. Bahkan ada anak korban tsunami aceh yang lari dari penampungan karena tidak tahan terus disiksa. Padahal orang yang memasukkannya memberikan dana yang besar untuk membinanya. Sungguh ironis sekali.
Gadis itu juga mengatakan ternyata perlakuan yang anak jalanan terima sangat mengerikan. Pernah ketika dia sedang mengajar, ada mahasiswa yang berjalan melewati mereka. Dan tanpa pikir panjang, mahasiswa itu menendang salah satu anak jalanan lalu pergi dengan tanpa rasa bersalah. Padahal mahasiswa itu tidak diganggu sedikitpun. Mereka sedang belajar, bukan membuat kerusuhan. Oleh karena itu, anak jalanan sangat takut kepada mahasiswa. Yang kedua yang ditakuti adalah polisi.

Pernah suatu kali saya dan teman-teman ingin berbuat sesuatu bagi mereka. Tetapi karena kami tidak mempunyai cukup uang, kami hanya bisa menghibur mereka dengan bermain & makan siang bersama. Mereka sangat bahagia, padahal sangat sedikit yang bisa kami lakukan.


Mereka seharusnya menerima kasih sayang, bukan pukulan atau hinaan. Mereka juga manusia seperti kita yang ingin hidup bahagia. Tidakkah kita bisa membiarkan mereka hidup tenang tanpa mengganggu mereka?

Semoga video ini dapat membantu Anda memahami & merasakan kehidupan mereka.

Wednesday, December 10, 2008

True Friends

A little and explain what real, true friends are.
1. Friends don't have to be exactly the same. Friends have similarities but they also have their differences. They key to opening up the world of friendship is not only to expand on similarities but to accept each other's faults. Because you can't ever judge your friend.
2. Friends have to argue! No one likes to but it is necessary to be healthy. Cause if you agree on everything, either the government has expanded cloning subjects or someone isn't being true and is trying a little too hard.
3. You have to be comfortable together or else you just aren't going to click. If you feel edgy around the person then something isn't quite right.
4. Friends love unconditionally. They have there little angry moments but what's done is done and all is forgive and forget. Why let something that happened in the past ruin what happiness you could have in the future?
These are only a few of the basics. Just remember, friends are forever. But only if you keep it that way. Don't diss your buds, love them instead. And when they drive you nuts, love them that much more forbeing just a little bit different and maybe just a little bit quirky!
By: Kristie-Lyn Wightman.

"Persahabatan bagai kepompong,
merubah ulat menjadi kupu-kupu"

Itulah namanya persahabatan....
memaklumi teman hadapi perbedaan...
namun itu karna kita sayang....!
Jangan biarkan selisih paham merusak indahnya persahabatan.

True frienship is never ending!

Friday, December 05, 2008

Kecelakaan

Hari ini aku mau menceritakan pengalaman pertamaku yang hampir bersentuhan dengan maut (wuih...kyk di cerita mistis ya). Kejadian ini terjadi pada malam minggu tepatnya 29 Nov '08 pukul 21.00, pada saat hujan deras, ketika aku sedang sendirian di jalanan yang gelap. Eits....lagi-lagi ini bukan cerita mistis :-).
Saat itu, aku sedang mengendarai motor kesayanganku (karena itu emang motorku satu2nya), Vario-ku.
Aku baru pulang latihan musik. Sebenarnya aku sudah biasa menerobos hujan walaupun sudah malam, karena aku tidak suka dua kata yang namanya "menunggu sendirian". Jadi, seperti biasa, tanpa pikir panjang, aku mengambil Vario-ku dengan perlengkapan lengkap (helm & mantel). Nah, ini salah satu kebiasaan baikku. Aku selalu mengenakan helm meskipun perjalanan yang akan kutempuh sangat dekat. Bukan karena takut ditilang polisi, tetapi karena memang itu kan peraturan berkendara & yang paling penting untuk keselamatan berkendara. Sudah beberapa kali kejadian pada teman2 & saudara2ku yg kecelakaan parah karena tidak memakai helm.
Vario-ku melaju dengan kencang, meskipun hujan deras & jalanan gelap, karena aku sedang mengejar waktu & jalanan itu memang sudah sering kulalui. Jalanan yang kulalui itu penuh dengan lubang. Biasanya aku selalu berhasil melewati lubang2 itu meskipun dalam kondisi yang sama (hujan deras, gelap, & dengan kecepatan tinggi). Tapi, mungkin ini yang namanya "naas". Aku tidak melihat dua lubang besar sehingga aku masuk ke lubang itu dengan kecepatan yang tinggi.
Seketika itu juga keseimbanganku hilang. Aku & vario-ku jatuh dengan "empuknya". Aku terseret ke tengah jalan dengan posisi telungkup, sementara vario-ku terseret ke pinggir jalan yang penuh dengan rumput. Aku terdiam selama kira2 lima detik karena terkejutnya, tetapi kemudian aku langsung bangkit. Yang kuucapkan dalam hatiku hanyalah "Terima kasih Tuhan." Aku bersyukur karena tidak ada kendaraan lain yang lewat, karena bisa saja aku dilindasnya. Aku merasakan perih di beberapa bagian tubuhku, tetapi aku tidak memeriksanya. Yang terpikirkan hanyalah aku harus segera pergi dari tempat itu. Aku berjalan ke vario-ku dan berusaha untuk mengangkatnya. Tetapi ternyata agak sulit, karena vario-ku lumayan berat. Setelah vario-ku berdiri pada posisinya, aku berusaha untuk membawanya ke jalan, tapi lagi-lagi agak sulit karena menyangkut. Pada saat itu ada satu motor yang lewat dengan dua laki-laki di atasnya, yang sebelumnya kudahului. Mereka sempat berpaling ke arahku sambil melaju, tetapi mereka tidak berhenti. Yah, mungkin karena jalanan yang gelap dan sepi, mereka tidak mau menolongku, karena kadang2 ada tipuan yang dibuat oleh orang2 yang berniat jahat. Berlagak membutuhkan pertolongan padahal sebenarnya mau mengambil motor orang yang mau menolongnya, bahkan tidak segan2 nyawa juga melayang. Karena saat itu aku mengenakan mantel, mereka mungkin tidak mengenaliku sebagai wanita. Hehehe....biasanya kan kalau wanita butuh pertolongan, langsung deh para pria bersedia menolong. Itu salah satu yang kusuka sebagai wanita :-p.
Akhirnya, aku berhasil membawa vario-ku ke jalan, dan menaikinya. Ketika mesin kunyalakan, aku kembali bersyukur vario-ku masih menyala dan berdoa agar tidak terjadi apa2 pada mesinnya. Aku teringat film2 action yang pernah kutonton, kalau motor atau mobil terbalik, bisa2 meledak.
Akhirnya aku sampai di tujuan & teman2 yang melihatku langsung menolongku membersihkan luka2ku. Kembali aku bersyukur kepada Tuhan karena mereka dengan tulus menolongku. Ternyata lukaku lumayan banyak. Di punggung kaki kanan, lutut kanan, telapak tangan kanan & kiri, dan siku kiriku. Bibirku juga sedikit berdarah. Yang paling parah, di siku kiriku. Lukanya sangat dalam. Luka di kakiku tidak begitu parah karena aku mengenakan celana jeans yang sangat tebal. Kembali lagi aku bersyukur, karena kalau tidak pasti lukanya akan sangat parah.
Kukira hanya itu saja lukaku. Tetapi esoknya baru kusadari, ada memar di kaki kanan & lutut kiriku. Bahkan sampai sekarang, aku merasakan pegal dan sakit di bagian dagu, leher, punggung, dan pinggangku.
Yach....hanya satu kata yang bisa terus ku ucapkan. "Thanks o, God". Karena aku menyadari ini terjadi atas seijin-Nya. Yang pasti aku harus lebih berhati-hati dalam berkendara.
Dan semoga luka2 ini lekas sembuh. Amiiiinn......!
NB: Buat teman2 yang membaca, doakan saya ya!
Thanks.